Rabu, 31 Mei 2017

Book Anatomy #4: MATAHARI - Tere Liye [Buku Ketiga dari Serial BUMI]




Judul : MATAHARI
(Buku ketiga Serial Bumi)
Penulis : Tere Liye
Cetakan : Keenam, Agustus 2016
Tebal : 390 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Kategori : Novel (Teen Fantasy Fic)
ISBN : 978 – 602 – 03 – 3211 – 6  

Blurb:

Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya.

Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya yang membosankan berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir.
Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.

Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.

***



Dulunya, hanya ada tiga klan yang berjalan di atas satu dunia yang sama, yang tertunya tanpa saling bersinggungan satu sama lain. Namun, alam mengubah segalanya. Alam mulai bergejolak dan memperlihatkan kemurkaannya. Berbagai bencana seperti gempa bumi dan gunung meletus mulai terjadi, menghancurkan kehidupan dari tiga klan sekaligus. Namun sesungguhnya, inilah cara yang alam lakukan untuk menjaga keseimbangannya.

Belajar dari berbagai bencana itu, sebagian kelompok masyarakat dari Klan Bulan dan Klan Matahari, dengan mengandalkan teknologi dan pengetahuan yang mereka miliki, mulai mencetuskan ‘kehidupan baru’. Mereka menggali sebuah lorong yang menuju perut bumi, yang akan dijadikan sebagai peradaban baru kehidupan mereka. Evolusi yang dilakukan secara besar-besaran ini sesungguhnya bertujuan untuk membebaskan mereka dari berbagai kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi jika mereka tetap berada di atas permukaan. Ribuan tahun berlalu, sebuah peradaban kehidupan baru lahir, yaitu Klan Bintang, Satu-satunya Klan tersembunyi yang berada di dalam perut bumi.

Hingga pada akhirnya, sebuah kekacauan besar terjadi di permukaan yang melibatkan Klan Bulan dan Matahari. Hal itu membuat beberapa kelompok masyarakat Klan Bulan dan Matahari pergi menyusuri lorong bumi untuk meminta bantuan kepada masyarakat Klan Bintang. Namun sesampainya di sana, rombongan mereka terpecah menjadi dua. Satu rombongan datang dengan misi meminta bantuan, dan satu rombongan lagi justru mengusung misi lain, yaitu untuk membebaskan Si Tanpa Mahkota dari Penjara Bayangan di bawah Bayangan. Berawal dari itu semua, tak disangka kekacauan demi kekacauan mulai terjadi di Klan Bintang dan membuat peradaban yang mereka buat hancur. Beribu tahun setelahnya, masyarakat Klan Bintang memutuskan untuk menutup kembali lorong antar klan. Semenjak itu, Klan Bintang dianggap misterius, bahkan tidak ada.

Penasaran akan seperti apakah kisah-kisah tersembunyi lainnya dari Klan Bintang? Kali ini, di buku ketiga serial BUMI ini, kita akan diajak oleh Raib, Seli, dan Ali untuk menjelajah ke dalam perut bumi, dan menemukan peradaban tersembunyi dari Klan Bintang. Seseru apakah perjalanan mereka kali ini? Dan, rahasia besar apakah yang mereka dapat dari perjalanan tidak biasa ini?

***

“Klan Bintang terletak jauh sekali, tidak bisa dipetakan oleh teknologi milik Klan Bulan, tidak bisa ditemukan oleh siapa pun, karena Av keliru, kota-kota, peradaban Klan Bintang tidak berada di atas awan-awan sana, sebaliknya, mereka justru di bawah. Mereka ada di perut bumi. Aku yakin soal itu.”
Hlm. 69

Seperti yang sudah saya tulis di atas, MATAHARI merupakan sekuel dari 2 novel sebelumnya di Seri Bumi (Baca review BUMI di sini). Garis besar cerita ini adalah kisah petualangan yang tidak biasa dari ketiga sahabat—Ra, Seli, dan Ali. Namun di kisah kali ini, yang menarik adalah mereka mengunjungi sebuah klan yang sangat misterius dan tersembunyi keberadaannya, yaitu Klan Bintang. Secara geografis, Klan Bintang terletak di dalam perut bumi. Bagian yang inilah yang menarik. Setelah sebelumnya ketiga sahabat ini bertualang di atas permukaan, kini mereka harus melakukan perjalanan panjang dan penuh tantangan di dalam perut bumi. Bayangkan, sangat menarik bukan, ada sebuah peradaban besar dengan teknologi tercanggih di dalam perut bumi? Dan, apa jadinya jika tiga remaja yang hanya bermodal tekad dan keberanian menelusuri lorong-lorong gelap di dalamnya?

Dalam dua buku sebelumnya, BUMI dan BULAN (Baca review Bulan di sini), Klan Bintang memang kerap kali disinggung oleh penulis. Namun itu hanya sebatas pernyataan bahwa Klan Bintang adalah Klan terjauh, tidak terjangkau, dan klan yang memiliki kemajuan lebih dari tiga klan lainnya. Selebihnya, penulis tidak banyak menjelaskan tentang perihal rinci dan ciri detil dari klan satu ini. Dan dugaan saya benar! Dalam buku Matahari ini, setelah saya mengetahui bahwa petualangannya akan menuju Klan Bintang, seketika saya menyimpulkan bahwa novel ini akan sama seperti BUMI. Minim aksi, dan lebih banyak deskripsi. Karena memang baru di buku inilah Klan Bintang diungkap ke ‘permukaan’.

Secara keseluruhan, memang saya merasa agak bosan dengan tiga perempat bagian awal buku ini. Selain karena dijejali dengan beberapa deskripsi, juga karena saya kurang bisa mencerna dan membayangkan seperti apa keadaan geografis Klan Bintang yang dijabarkan oleh penulis. Rasanya susah dibayangkan saja, ada kehidupan dengan peradaban maju di sebuah ruangan berbentuk kubus dengan luas ratusan ribu kilometer, apalagi di perut bumi. Lalu, ada juga langit dan matahari di sana. Iya, ini memang novel fantasy, mau berimajinasi setinggi apa pun boleh, namun yang terpenting adalah bagaimana cara yang bisa membuat pembaca memahami setiap detilnya dengan baik. Saya rasa, cerita seperti ini lebih cocok disampaikan secara visual, bukan tulisan. Saya sangat senang sekali jika salah satu buku Seri Bumi, atau bahkan semuanya, dijadikan sebuah film. Tapi saya ragu, production house negara kita tidak sehebat Hollywood. Dan seperti yang sudah dikatakan oleh Tere Liye di Acara Bedah Buku di Kota Sidoarjo akhir tahun lalu, beliau tidak ingin jika film-nya nanti akan seperti sinetron Handsome-Handsome Wolf, hahahaha.

Saya juga merasa terganggu dengan penggunaan POV1 yang kurang maksimal di novel ini. Seharusnya, setiap kejadian dan keadaan yang ada di dalam cerita disampaikan berdasarkan apa yang dirasakan, dilihat, mau pun didengar oleh si tokoh ‘aku’ atau Raib. Namun di sini, ada beberapa bagian yang keluar dari ketentuan itu. Seperti misal, saat Ra ada di salah satu lorong Markas Dewan Kota, entah kenapa dia tahu apa yang dilakukan oleh petugas pengawas sistem bawah tanah, bahkan dijelaskan cukup detil juga apa saja yang dilakukan oleh si petugas. Masalahnya, saat itu mereka jelas berbeda ruangan, tapi kenapa Ra bisa tahu? Di sinilah letak kebolongannya, penggunaan PoV1 yang kurang diperhatikan dengan baik.

Cerita menjadi semakin seru saat memasuki 100 halaman terakhir. Saya sangat menikmati dan kerap kali ikut berdebar saat membayangkan betapa seru dan tegangnya pertempuran di Markas Dewan Kota. Kekuataan Ra, Seli dan Ali yang saat itu menjadi berlipat lipat dari sebelumnya, sungguh membuat adegan pertempuran sangat seru untuk diikuti. Terlebih saat Seli membuat tornado dengan tenaga kinetiknya. Itu sungguh membuat saya terus menerus menyemangatinya—dari dalam hati tentunya—tiada henti. Dan seperti biasanya, keberadaan Ali dengan segala sikap pantang menyerah dan kesolidaritasannya, membuat saya terharu, pun tertawa di saat yang bersamaan. Bagaimana tidak, ia bertempur dengan robot besar hanya dengan sebilah tongkat kasti? Hahah, antara mau ketawa, haru, dan kagum. Melihat hal demikian, saya cukup bisa menyimpulkan bahwa kunci utama dari setiap permasalahan adalah solidaritas dan persahabatan. Itulah yang coba disampaikan penulis dalam buku ini. KIsah fantasy dengan tokoh utama remaja tangguh yang sangat indah.

Terakhir, cukup banyak adegan di novel ini yang saya favoritkan. Beberapa di antaranya adalah saat Seli, dengan tenaga kinetiknya yang sangat tidak terduga, menghancurkan pasukan Robot Z dengan besi panas yang digerakkan layaknya tornado. Dan punchline-nya adalah ketika Ali memukulkan tongkat kastinya dengan tepat di muka Sekretaris Dewan Kota. Wow, you did good Ali!

Benar-benar tidak sabar menunggu BINTANG rilis! Saya harap bisa secepatnya!

Selamat membaca, dan terima kasih!

***

“Kita tidak boleh terpisah. Apa pun yang terjadi, kita harus tetap bersama-sama.”
Hlm. 297

***


REVIEW #4 Dalam Rangkaian Project BOOM [Book Anatomy] oleh Bintang @ Ach’s Book Forum dan Nisa @ Resensi Buku Nisa

Kalian juga ikutan BOOM bulan ini dan sudah baca buku yang kita tentukan? Kalau sudah, ayo bikin review-nya dan silakan setor link review kamu di kolom komentar di bawah

Ketentuannya bisa kalian lihat DI SINI

***

SUDAH SIAP UNTUK #BOOM BULAN DEPAN?

Dan ini dia buku yang akan kita bahas di BOOM bulan Juni nanti. Yeay, ayo ikutan ya!

Mari kita kupas ' ' bersama-sama!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar